NOVELINDO

Cerita:

NOVELINO

__Sadenosem The Losy Day__

Oleh : Vera Tinfika M

Babak satu      : Keluarga Besar Ku à My Live, My Adventure

Babak dua       : Orang Tua Ku à Rendaman Sungai

Babak tiga       : Masa Kecilku (TK-SD) à Pemberontakanku

Babak empat   : Masa Puberku (SMP-SMA) à Surat dari Ayah

Babak lima      : Menjelang dewasa Ku (Kuliah) à Dua Ksatria Ku

Babak enam    : My Noise

Babak tujuh     : Masa Penyatuaan Keluarga (Big Mission)

Pada masa kolonial Belanda masih bercokol di negeri ini suasana perkampungan Sunda menjadi sasaran amukan tentara-tentara yang turun gunung untuk menghindari serangan musuh. Rumah penduduk jadi sasaran jarahan sehinggaa tttidaklah heran kalo penduduk didaerah itu  menjadi nomaden karena sering sekali mereka harus ngungsi untuk menghindari serangan musuh.

Di Desa itu orang tidak asing lagi dengan nama Sukri juragan kaya, di tengah konflik yang ada ia terlihat sedang berpikir kkeras menimbang putranya yang ketiga …

***

Hasil pernikahannya dengan Fatimah, Sardi mempunyai lima keturunan Salamah, Burhan, Eti, Teti dan Atit. Salamah adalah anak yang pintar lagi cantik tak heran kalau banyak pemuda yang menanti. Dari sekian pemuda yang mengharap Muhidin ternyata yang berhasil meminangnya. Sebenarnya kondisi keluarga Idin biasa-biasa saja dalam hal ekonomi hanya saja Sardi sebagai ayah Salamah yang saat itu menjabat kepala desa tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena melihat Salamah begitu mencintainya. Setelah menikah dengan Salamah, Idin diberi kepercayaan untuk mengelola perkebunan kentang di Lembang, hanya saja entah kenapa usaha itu tidak bisa berjalan dengan baik, karena Sardi menganggap hal itu karena Idin tak cocok di perkebunan makaa ia memberikan proyek baru yakni menjadi distributor kelapa ke luar kota, maklum Sardi terkenal sebagai orang yang berkecukupan didesa itu dan memiliki bnyaak pekebunan kelapa. Sebenarnya sangat sayang sekali ketiika idin tidak bisa mengambil kepercayaan mertuanya karena lagi-lagi usaha kelapa keluarga sardi kandas  di tengah jalan setelah di pegang Idin. Akhirnya Idin mengambil jalan untuk jadi kontraktor dan konsekuensinya ia akan meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lumayan lama.  Saat itu Salamah sedang mengandung anak kedua, Susi, gadis kecil berambut ikal sebentar lagi akan punya adik. Mendengan suaminya akan berangkat ke Sumatera, Salamah menangis ia keberatan karena ia tidak ingin kelahiran anak keduanya tak didampingi suaminya. Hanya saja kepergian Idin tak ada satupun orang yang bisa mencegahnya.

Tiga bulan sepeninggal suaminya, Salamah melahirkan anak kedua hanya saja perjuangan melahirkan anak kedua ini membutuhkan perjuangan yang cukup ia mengalami pendarahan yang cukup serius sehingga harus di rawat di rumah sakit tapi Leni anak kedua berhasil lahir dengan selamat. Karena Salamah mendesak sang ayah untuk menyuruh suaminya pulang, akhirnya Sardi memohon dengan sangat pada menantunya perkara ongkos biar Sardi yang tanggung. Kondisi Salamah sepertinya makin hari tidaklah lebih baik tubuhnya begitu lemah karena pendarahan yang ia alami memang begitu dahsyat. Berpacu dengan waktu Idin tiba di halaman rumah sakit, rindu yang mendalam pada sang istri ingin segera ia luapkan. Ketika ia tiba di Vapiliun 5 tempat istrinya dirawat ia mendapati orang2 sudah banyak berkumpul. Ia tatap wajah istrinya yang tak berdaya, ketika ia membelai rambut Salamah, Amah membuka matanya perlahan. Rasa rindu, marah, sedih dan sayang beradu tapi ia tak mungkin ungkap semuanya pada sang suami yang baru sajaa datang. Disamping ia sudah tak mungkin mengeluarkan energi marah yang sebesar itu, ia tak yakin kalo waktunya masih lama. Ia menangis dalam hati yang nampak hanyalah air mata yang henti membasahi pangkuan suaminya. Idin peluk erat istrinya sambil mendengar bisikan yang sayup dan terpatah-patah. Mas titip anak2 aku tak bisa menjaga mereka lagi. Melihat kondisi itu perasaan bersalaah Idin semakin memuncak, selama ini bukan berarti ia tak mau cepat2 pulang hanya saja ia ppikir kondisi istrinya tidak seburuk yang ia lihat saat itu.

Dengan  segala cara Sardi membujuk Eti untuk menikah dengan Idin, saat itu Eti baru lulus SMA, dengan segala

***

Setelah pernikahan kedua Idin mengarungi bahtera kehidupan dengan Eti, bukanlah hal yang mudah melupakan Amah, wanita yang sangat ia cintai harus pergi meninggalkannya bersama anak-anak yang masih kecil sekali. Atas berbagai pertimbangan pengasuhan Susi diserahkan pada Nek Haji sedangkan Leni sama Nek Ecoh. Tak lama setelah pernikahan Eti mengandung anak pertama dan seiring waktu berlalu Eti mulai mencium suaminya sering pergi berhari-hari meninggalkannya dalam kondisi susah payah dengan kandungannya yang seemakin membesar. “Kang mau kemana lagi? Tanya Eti suatu pagi ketika menemui Idin sudah berpakaian necis. “Akan ada panggilan dari teman yang di Kalimantan, ada proyek besar nich”. Jadi akang mau ke kalimantan? Aku ga mau akang pergi… Eti akang tuh punya anak mau makan dari mana. Udah lah lagian akang g pergi sekarang2. Trus sekarang akang pagi2  begini mau kemana? Itu koper isinya apa? Uang… akang udah janji nemuin abah anom di gunung saga. Akang ngapain percaya sama dukun sich … inget kang eti lagi ngandung anak akang. Aku ga mau nanti ada apa2 dengan anak ini gara2 tinngkah laku akang. Eh salah benner pikiran kamu puguh akang the karna sayang sama anak gimana nnnasib nya kalo besar nanti akang kudu tatanya heeula. Ges lah tong ngahalang2. Sampai kapanpun kamu ga akan ngerti jalan hidup akang. Satu minggu eti sendirian di rumah paling ada bi ennab sama anaknya yang suka nemenin dan menghiburnya. Bi ko akang belum pulang juga ya, sambil mijitin eti bi enab menghibur, paling si akang bentar lagi pulang. Selang dua jam dari itu tiba2 eti yang hampir terlelap dikagetkan dengan ketukan suara sepatu dihalaman rumah sama teriakan orang bersorak sorai. Woi kang Idin pulang bawa Ikan gede 25 kilo hayu urang cucurak ronda2 hayu bakar ikan. Ga lama orang seRT datang kerumah. Dengan wajah penuh heran eti tak bisa berkata-kata apapun di depan pintu. Bi enab siapin tempat bakar ikan, mang edin geura rasanan laukna saya geus lapar yeuh. Eti eta pang nyiapkeun kammar jang si Abah leleson. Dengan wajah kesal eti ga berani membantah perintah suaminya. Prosesi pemasakan ikan selesai 2 jam an.Pukul 12 malam mereka baru selesai makan sambil uplek ngombrol di depan teras. Saat itu Abah anom belum tidur lalu mannggil Idin ke kamarnya. Ada apa abah, kalo abah ada perlu apa aja tinggal bilang mang udin tar dia yang nyediain. Bukan itu sini Si Abah membisikkan sesuatu sama telinga Idin, Bawa istri kamu sekarang ke sungai cipeuteuy suruh dia berendam dua jam. Yang bener abah, ya tong loba tanya mengpeung keur alus poena. Jig kkaditu. Ketika Idin masuk kamarnya nampak Istrinya belum tidur, mukanya masih cemberut , sayangku kenapa ga mmakan padahal kan ikannya enak. Ga ah … sambil meluk istrinya Idin berbisik. Eti sayang g sama akang sama anak kkkita…kenapa akang nanya gitu ga perlu nanya juga eti mah teteep sayang, tapi kenapa sepertinyaaa justru akang yang sayang eti. Eti ga suka sama kakek tua itu. Eti boleh ga akang minta sesuatu, akng mohon Eti penuhi permintaan yang satu ini. Apa itu kang?? Kita pergi ke sungai sekarang ya anak kita harus dimandikan malam ini. Haaah apa mmaksud akang … tapi entah kenapa sejak awal kenal sama Idin, Etti selalu tak bisa menolak permintaan idin pun ketika ia memintanya jadi istri. Tak kuasa ia menatap sorot mmata suaminya yang menghunjam dada dan membuatnya lemah tak berdaya. Seperti kerbau di cucuk hidung akhirnya Eti keluar malem dibonceng suami dengan motor, kkendaraan ppaling modern yang hanya dimiliki oleh keluarga Muhidin. Setibanya di sungai Idin menggandeng istrnya menuruni sungai dan memapahnya ke tengah muara. Akang jangan kemana-mana pegangi eti. Ia akang disini. Bulan yang sudah bulat sempurna menyinari wajah eti yang basah dengan air mata, sementara idin tak bisa apa melihat kondisi istrinya demikian. Tapi ada satu harapan besar dengan peristiwa itu, bahwa anaknya nanti kelak akan menjadi orang besar. Dua insan bertahan ditengah muara sungai menahan dinginnya malam itu.

Perjuangan dua insan itu akhirnya berakhir di penghujung waktu, eti nampak sudah tak tahan di usia kehamilannya yang sudah tua (tujuh bulan) ia harus bertahan melawan dinginnya malam berendam di sungai dalam kesepian adalah kejadian yang tak pernah ia mimpikan. Idin memangku istrinya dan membawanya ke darat, sinar rembulan menerangi wajah pucat kedua insan.

Angin sepoi memasuki ruang kamar mereka, pagi itu eti tak kuasa bangun dari peraduannya. Dan jahatnya kondisi yang menimpa ia, karena sang suami ternyata harus berpamitan pada pagi hari itu juga. Oh bisa kita bayangkan betapa hancurnya perasaan mama saat itu.

Dengan sisa kesabaran mama menjaga kandungannya yang sudah besar dengan bantuan nek Anah, bayi kecil itu terlahir. Dengan segala kewenangannya anak yang akan jadi penentu namaku “Pera Juwaningsih”. Entah apakah artinya? Hanya saja setelah kelahiranku sepertinya sifat ayah tak kunjung berubah. Sesekali mama pulang ke rumah nenek menggendongku dan menghujaninya dengan air mata. Pada tahun ketiga usiaku mama habis kesabaran karena ayah yang seharusnya menafkahinya tak kunjung pulang ke rumah. Meski dengan dalih banyak proyek dimana-mana sebenarnya uang ayah tak pernah mengalir pada keluarga kami. Kalau boleh dibilang Susi, Leni dan Pera belum pernah mencicipi harta jerih payah ayahnya. Ayah memang terkenal orang yang dermawan meski kadang kebablasan atau luppa daratan kalau sudah tenggelam dalam pujian, rezeki ayah memang sedang bagus meski kami tak pernah menikmatinya. Hanya saja pada tahun dua puluhan rating ayah mulai menurun, banyak orang tersakiti sehingga mereka mengeluarkan serapah apalagi penduduk desaku saat itu masih kental dengan santet mereka bisa melakukan apapun dengan guna2.Mereka penduduk satu kampung yang jadi anak buah ayah dalam proyek konstruksi baangunan, mereka marah kkareena ternyata gaji mereeka belum di bayar berbulan2. Di suatu senja mama menghadap kakek untuk mengajukan cerai dari pihak istri karena tidak dinafkahi lahir dan battin dalam waktu yang cukup lama. Melihat kondisi mama kakek pun iba, akhirnya kakek mengabulkannya.

Pera kecil sangat lucu kulit putih mata sipit kaya orang cina orang2 memanggilku “Oshin”. Oshin cukup lama tuk bisa berdiri, dengan upaya ibu memapahku berjalan. Bahkan kakek tak segan membuatkaknku tonggak pegangan untukku berdiri di halaman, kakek pula yang berinisiatif mengubur kakiku dengan pasir karena orang bilang cara itu bisa mempercepat anak jalan. Suatu siang ibu bermain denganku ditaman, sampil menyuapi aku makan ibu mengawasiku yang sedang berjuang mencari kestabilan dddengan berpegangan pada tonggak yang kakek buat. Tanpa kusadari dari arah yang berlawanan dengan ku terdengan suara memanggilku. “Pera sayang pulang” sebelum aku sempat menengok ke arah suara ibu segera mengendongku secepat kilat dan sempat tertegun pera kenapa maen dirumah kakek tadi ayah ke rumah ga ada siapa2. Tanpa memberi tanggapan ibu segera bergegas lari kerumah. Sepertinya ayah kebingungan tidak mengerti aapa yang sedang terjadi. Ayah berlari menyusulku dan ibu tapi di tengah rumah kakek menghadangnya. Sudah pulang kamu idin, duduklah dulu aku mau bicara. Apa yang terjadi dengan eti dan anakku pa? Kemana saja kamu selama ini, berapa lama kau tinggalkan anakku? Berapa lama kau biarkan anakku tak makan. Tanpa memberikan kesempatan ayah berbicara kakek langsung menyerahkan surat keteranga cerai. Apa ini pa? Aku ga rido anakku kau perlakukan sperti itu. Dan sekarang dengan sah KUA sudah menyatakan kalian cerai. Untuk pengasuhan anakmu biar kami yang tanggung. Sekarang kamu mau pergi kemanapun untuk melakukan apapun seberapa lamapun terserah kamu, kami sudah tak ada urusan. Pembagian harta gono gini nanti kita atur mulai detik ini kamu tidak punya hak apapun terhadap anak saya. Meski mama tidak menemui ayah tapi sejatinya kami menguping pembicaraan dengan kakek lewat celah dibalik pintu ibu mengintip kejadian di ruangan tengah Muka ayah merah padam Ya sudaah kalo itu mau kalian. Tanpa pamitan ayah beranjak dari kursi lalu membanting pintu sekerasnya. Sejak itu pecahlah tangisan mama sambil memelukku erat lalu menyapihnya. Aku semakin bingung kenapa orang2 dewasa itu melakukan hal yang bisa aku mengerti.

Setelah perpisahan ayah dan mama bukanlah menyelesaikan masalah, malah muncul persengketaan dari dua keluarga besar mama dan papa. Yang satu mengaku ini miliknya dan yang lainnya tak bisa terima kondisi itu. Perebutan harta itu menciptakan ketidakharmonisan kedua keluarga. Kondisi itu berpengarus besar pada pengurusan kedua kakakku Susi dan Leni yang diasuh dalam keluarga yang berbeda. Sejujurnya Keluarga kakek dari mamah memang jauh lebih berada dibanding keluarga dari ayah. Apalagi saat itu kakek menjabat kepala desa semakiinlah orang bersikap segan pada keluarga kakek. Hal itu buruk bagi perkembangan Leeni, ia menjadi jauh dari kami, ia nampak minder dan anti untuk berkunjung.

***

Tak lama peerceraian itu mamah menemukan pengganti ayah, seorang perjaka yang sangat penyayang pokoke mama beruntung deh udah cakep perhatian pula, hanya saja jangan tanya aku suka atau tidakkah dengannya. Yang jelas dia bagiku adalah makhluk asing bagiku yaang selalu mengganggu tidurku karena sekarang tempat tidurku harus bertiga, perhatian mamaku pun rasanya sudah terbagi. Aku benci!!!

Tak lama dari itu pun aku dengan kabar dari keluarga nenek ayah klo ayah sudah nikah lagi. Istri ayah yang sekarang berasal dari luar kota. Sempat suatu kali ayah pulang sengaja ingin mempertemukan anak2nya dengan istri barunya. Yah gimana yah namanya juga anak kecil diajak jalan2 naek mobil pula aku sih hayu aja. Tapi ga tau dengan dua kakakku apakah dia sesenang aku. Aku bahagia kaareena aku masih belum terima kehadiran orang asing yang telah merebut mama sebaik apapun dia masa bodoh. Setelah ketemu, busyet cakep banget istri ayah tapi wajar sih ayah juga masih cukup layak untuk mendapatkannya, habis ayah ganteng tinggi besar kekar mirip ade ray. Ha ha.

Secara fitrah ternyata aku diberi ade dari papah baruku walau ga suka, ya aku coba bersikap biasa aj. 19 Jan ’90 ibu melahirkan edwin bayi kecil mungil berambut ikal kaya papahnya lucu emang. Aku juga suka, tapi kalo udah nangis bencinya minta ampun udah mah berisik tambahan lagi semakin aja menyita waktu mama untukku. Selang satu bbulan aku dapaet informasi dari keluarga nenek dari bapak bahwa istri ayah diluar kota pun melahirkan 7 Feb’90 hari miladnya sandra.

Unhappiness, was when I was young. Beberapa aksi pembangkangan sering kulakukan semua sebagai bentuk kekesalanku semata, mama tak begitu perhatian padaku apalagi kini ia sibuk karena mama jadi sekretaris desa, tiap hari pergi ngantor sementara untuk ngasuh adepun sampe kakek nyariin pembantu. Tahun ’93 aku sudah duduk di bangku kelas3 SD, ketenanganku mulai terusik lagi padahal rasanya saat itu aku sudah mulai bisa menerima papah dan keluarganya. Hanya saja karena ada tetanggaku yang juga guru ngajiku nanya sama aku. Pera mamanya lagi hamil lagi ya, perutnya udah keliatan besar tuh, spontan aku, Nggak!!! Emng mamaku perutnya gitu ko. Meski aku sudah melakukan perlawanan tapi ternyata pertanyaan itu selalu menghantuiku. Apa benar mama hamil lagi? Tidak!!! Entah kenapa pada masa itu jiwaku sensitif sekali, teman2ku guruku disekolah juga sangat mempengarui, perasaan untuk selalu sesuai dengan kehendak teman2ku dengan propaganda guruku. Rasanya dunia ini kiamat kalo mereka membenciku karena aku berbeda dengan mereka.

Suatu pagi bu guru sudah menceramahiku, siapa diantara kalian yang orang tuanya mengikuti program KB, Saya bu hampir semua anak mengacungkan tangannya, dan salah satunya aku, senang rasanya ketika semua skenario yang dibangun wali kelas bisa aku ikuti. Oh lega tak dipungkiri memang ada kebanggaan tersendiri kala di kelas atau diantara teman2 yang ada aku menjadi orang yang cukup diperhitungkan. Meski terkadang ada aja orang sinis ppadaku. Hanya jiwa sedikit terusik dengan pertanyaan tetanggaku tadi ppagi, pera mamahnya lagi hamil ya? Spontan aku menjawab Nggak!!! Emang mamah gitu ko perutnya, tapi ko sekarang sering pake daster ya, ei emang tiap hari juga mamah seneng pake daster. Ni orang kurang ajar juga ya. Meski kuberusaha membantahnya hanya saja kenapa pertanyaan itu menjadi bahan pikiran, gawat kalo mamah bener2 hamil hancur reputasiku di kelas. Segera ku hampiri mama yang sedang menyapu (sekedar bocoran aja hobi mama emang nyapu)

***

*Edwin Alviana

Lahir 19 Januari 1990, Ade kecil yang lucu berambut ikat dan sangat manja sekarang udang gede and makin handsome wajar banyak hati yang menyangkut orang kakaknya sendiri kesengsem ha ha. Walau masa kecil kita sering bertengkar bahkan aku dzolimi dia (he he belum memlakukan pengakuan dosa). Banyak kenangan indah yang kulalui bersamanya. Tujuh hari di pesantren adalah momen yang paling berkesan bagiku. Kini ia sedang menanti kepulanganku. Ade yang ini suka agak jaim sama aku. Padahal rindu. Disamping rindu sama kakaknya yang usil ia juga merindukan komputer yang akan kubawa untuknya. Altet abil bintang lapangan merebut medali dalam seluruh cabang olah raga.

*Sandra Herdiana

Lahir 7 Februari 1990, meski kita baru ketemu 4 bulan hatiku sudah terpaut dengannya. Cowok dengan segudang luka kecil kini menjadi ksatria tangguh dan menjadi kebanggaan semua orang. Selain handsome ia cowok cerdas ia meniti karir di Paskibra. Sekarang lagi deg degan nunggu pengumuman seleksi paskibranas. Wuih keren abis dah. Aku jadi malu.

Tunggu dan lihatkah aku akan persembahkan sesuatu yang jauh lebih amazing bukan hanya skala nasional tapi internasional. Karena aku adalah kakak kalian, dan aku tak kan pernah meleppas kalian apalagi sampai kalian salah asuhan. Kini ia sering menerorku dengan smsnya agar ku segera pulang dan menemuinya dengan seikat buah tangan. Dua adeku terkadang menerorku pula dengan tagihan pulsa kala kartu mereka mulai bermasalah. Tapi sejatinya sungguh aku akan selalu merinduinya, aku berani berkorbaan apapun untuk mereeka dengan saatu syarat kalian harus menemukan jalan yang sampai saat ini tak pernah papa temui.

***

Duh mama perutku sakit sekali padahal aku ga makan terlalu pedes tapi itu terjadi barusan setelah aku baca sms berbunyi “Subhanallah, semalam rif mimpi lagi berada di tengah padang pasir ga ada pohon ga ada air ga ada yang lain kecuali ada wajah seseorang dengan senyum dan lambaian tangan itu aja”. Susah emang jadi seleb, akhir-akhir ini aku sering diteror seseorang, sebenarnya aku tahu no itu punya siapa karena dulu si empunya no pernah nelpon aku, ternyata dia adalah orang yang beertahun2 menerorku dengan salam2 ghaib, habis selalu aja dia nyalamin aku lewat tangan2nya. Emang cowok pengecut, jangan harap aku bakal ngasih resppon, jangan mentang2 punya muka lho bisa naklukin gw. Dia murid baru di tempat pengajianku emang awal2 dia keliatan alim gitu deh and so rajin gitu. But I don’t mind, hanya saja dengan derasnya orang ngomporin gw, akhirnya gw sedikit terpengaruh juga bener  ga sih dia suka aku. Jangan2 itu tipuan anak2 aja sorry mau bikin gw kegeeran. Sejak saat itu gw janji jangan pernah nanggepin noise2 yang berterbangan, tapi kalo bener dia yang ngungkappin itu masalah entar, ya bisa jadi gue pikir2 dulu satu dua tahun kulewati hidup satu madrasah dengan dia tapi semua biasa2 aja. Prestasiku emang kadang terlalu melejit sehingga aku suka ngerasa ga enak guru ngajiku yang cowok terasa mengistimewakanku.

Tapi suatu masa di desaku ada acara hiburan di alun2 ya sebagaimana biasanya pasti aku maen2 donk belanja2 keteemu temen dll. Tapi entah tiba2 aku ketemu dia Mr. Misterius. Tanpa basa-basi ia langsung berkata di hadapanku, neng aku kemarin bikin cerpen tentang mu dan ku bacakan di kelas, aku sok kaget bercampur deg-degan apa yang ia ceritakan tentangku, tanpa melihat ekspresiku ia langsung berlalu belum juga adrenalinku turun ia sudah nongol lagi membawa sepucuk kertas, neng mau baca, emang boleh? Ya udah thanks. Setiba di rumah kubaca cerpen itu, oh konyol sekali dan sangat kurang ajar. Ia cerita bahwa ia terkagum2 and simpati sama seorang gadis dan disana tertera namaku, hanya saja ia menceritakan perjuangannya menghadapi segala kedinginanku, aku dinisbatkan sebagai orang lugu yang Cuma bis a tersenyum dan ga pernah bisa ngasih kepastian. Hanya saja kurang ajarnya dia membuat jalan ceritanya happy ending. Akhirnya aku menerima uluran cintanya. Andai ku mau ku bisa seret dia ke peengadilan. Tapi setelah kupikir2 dan kulamunkan apa ya jeleknya dia, muka punya, rajin, sering ke mesjid, sering shaum sunnah (ko gw tau ya? Tau donk). Sebenarnya diam2 aku juga menaaruh simpati sama dia, tapi yang paling kubenci kenapa dia ga pernah mau ngungkapinnya langsung. Awas aja lho ngaku2 jadi pacar gw make ngumumin di kelas segala, trus dia bilang sama aku kalo  temen2nya sekellas pengeen ketemu sama aku, gila apa dia, temen2 dia kan anak2 kls 1 SMA sementara gw baru kls 1 SMP dan aku ga pernah mau ngabulin permintaan dia. Siapa elo?

Cape deh kalo gw harus mikirin dia yang ga jelas. Ga tau prestasiku di SMP pun makin melejit apa itu juga yang bikin dia suka ma aku ya. Ka ni ada titipan surat, amplop beertuliskan BUAT VERA. Surat itu dari dia penasaran aku langsung buka di kantin sehabis upacara bendera, akhirnya dia ungkapin perasaannya sama aku, dan ia minta aku mau jadi pacarnya. Entah kenapa aku sepertinya telah jatuh cinta padanya, sumpeh tangan gw gemetaran pas bukanya. Sejak itu kita resmi jadian, tapi jangan salah mungkin gw adalah cewe yang paling rese karena kesediaanku itu bukan tanpa syarat, gw minta orang lain jangan ada yang tau kalo kita dah jadian, gw minta dia jangan berharap bisa jalan bareng sama gw, dan gw minta dia bersikap biasa2 aja sm gw. Gila lu per mana ada cowok yang tahan dengan syarat2 yang lu minta. Lho buktinya dia ada, he he. Tapi emanng ia sih dia pernaah komplen dengan segala kereseaanku. Ya terserah pikirku. Dan dia pun memilih bertahan kayaknya daripada harus kehilanganku. Sumpeh meski kita satu RT kita ga pernah ketemu. Apalagi setelah aku lanjutin SMA di kabupaten dan dia juga kuliah di ibukota privinsi. Beneran paling kita ketemu satu tahun sekali.

Pera ikutan ke mesjid agung yu ada pengajian, hayu aku sih ga ada pantangan ke mesjid. Setiba disana ustadznya dah ada, lalu membuka majlis dengan salam dan basmalah, pembhasannya pergaulan, yang bikin shock ustadz yang didepan mengikrarkan bahwa pacaran itu haram, saat itu aku berbantahan dengan ustadznya karena aku ga terimma.

Tahun 2002 aku mutusin dia lewat sepucuk surat

Titiiiiiiit tiiiiiiit astagfirullahal’adzim lamunanku begitu panjang kenangan itu memang ga bisa begitu saja terhapus dalam ingatanku. Bunyi sms dari handphone setiaku membuyarkan konsentrasiku menulis. Astagfirullah ternyata dia yang sms apa ya? Neng lagi ada di Legok ya? Niat sholat hajat gimana? Gubrak anak ini agak linglung kayanya. Dia beda sekali dengan dia yang pernah ku kenal dulu. Setelah kita pisah dan dia pun hidup dengan suasana ibukota besar sekali lingkungan mengkontaminasinya. Beberapa bulan yang lalu ia sempat menemuiku dan mengatakan bahwa 4 tahun ke belakang ia ga pernah sholat. Gw geleng2 ga ngerti apa bisa gw lakukakan untuk dia. Meski kita dah putus tapi dengan kehadiran dia yang kedua kalinya dia malah sering menerorku dg sms2 yang kadang mengguncang adrenalinku, namanya juuga manusia entah apa yang aku suka  dari dia seppertinyya aku memang masih ada rasa. Ya Allah help me, mudah sekali hati ini rapuh sedikit saja dibenturkan dengan perhatian lawan jenis. Setelah ku berjuang akhirnya selang 6 jam aku dapat hibah sms dari teman. Bunyi sms yang kutulis, Aku masih di Bogor, apakah ad orang yang mirip denganku? Niat sholat hajat: Usholli sunnatal hajati rak’ataini lillahi ta’ala. (message sending). Tidak lama setelah itu mendengar lagi teriakan hp ku, hah siapa lagi yang sms. Dia sms apa lagi nich, “aku ga ngerti kenapa selalu hadir dalam setiap mimpiku dengan wajah tersenyum dan tak berkata seucappun, kalo memang ini jalan hidupku kenapa tidak ada kepastian???” What the maksud? Gila gw lagi ga da pulsa emang lagi hari tua neh. Sms itu sangat menggangguku. Kuputuskan untuk beli pulsa aku harus selesaikan mlm ini juga. “Berapa kali kamu mimpi aku” “empat kali, tiga kali berturut-turut satu kali lagi malam kemarin” “apakah kamu ada targetan untuk menikah” “tidak” “kurang ajar teriak hatiku” “trus landasan kamu mencinntai seseorang itu apa?” “ya biar jadi motivatorku” “Apa sih cita2 kamu sebenarnya” “aku mau jadi orang sukses” “sukses itu harus didefinisikan tau” “ya aku pengen sukses punya kerjaan, banyak uang dll” perlu kamu tau aku terganggu dengan sms2 kamu kalo memang kamu ga jelas begitu jangan berharap aku bisa kamu peralat begitu saja aku takut Allah ga ridho dengan apa yg kulakukan. Tapi untuk masalah kamu solusinya ga ada di orang lain, motivasi akan datang dari diri kamu sendiri kalo kamu memang sudah memcahkan big problem yaang masih ada dalam diri kamu sendiri. Kalao boleh aku sarankan mending kamu ngaji deeh pelajari Islam, kalo kamu mencari pasti Allah akan tunjuki, karena sejatinya Islam adalah problem solver. “Please, pera aku ga mau terlalu fanatik biasa aja lagi, dan aku ga bisa jadi ikhwan” “oh hatiku rasanya luluh laantak” “ga … ga bisa aku pertahankan dia. Ya Allah padahal andai dia serius aku juga akan bersikap serius. Sudahlah ini pasti jalan yang Allah tunjukkan untukku” “Ya sudah kalau itu maumu, aku Cuma ngasih saran. Tapi aku mohon mulai detik ini LUPAKAN AKU” “lho ga bisa emang gampang apa ngelupain oranng gitu2 aja” “terserah lho, Sesuatu bisa kamu lupakan asal kamu jauhkan segala hal yang bisa  mengingatkan kamu terhadap orang” “ya sudah Assalamu’alaikum” “Wa’alaikumsalam”. Tak terasa air mata membasahi pipiku. Entah aku merasa ada sesuatu yang hilang dari jiwa ini tapi aku yakin itu kebaikan bagiku, kupejamkan mata sambil berbaring. Ya Allah jauhkan aku darinya kalo memang dia buruk untukku. Setelah berdo’a kupejamkan mata berusaha sekeras mungkin agar aku tidur. Belum juga aku terlelap. Hp itu berbunyi lagi, apalagi??? “Aku belum ada target untuk nikah karena belum pasti, calon istriku nanti akan kubawa kekeluargaku, aku akan berusaha melupakanmu walau berat, aku memang ga layak buat kamu, aku bukan ikhwan dan aku pengangguran” “emang gw pikirin” “dengan kesal kulempar hp entah nyangkut dimana”. Aku berjuang lagi untuk tidur dan melupkan segala sesuatu yang telah terjadi.

Teteh bangun ayo sholat tahajud, oiy badanku rasanya ringsek. Kucoba cari2 hp yang semalam ku banting. Oiy ketemu juga,, eiit ada sms masuk lagi, siapa lagi ini “aku masih berrharap agar kamu menjadi pendamping hidupku, aku akan selalu berdo’a pada-Nya meski aku bukanlah seorang ikhwan” “terserah apa maumu ga ada urusan denganku” lagi2 dia bikin gw kesal plus bingung.

Satu hati berlalu kupasrahkan semua urusan ini kepada-Nya, aku tak tahu apa yaang sedang ia rencanakan untukku. Haari menjelang mallam sepulang dari rapat konsolidasi dakwah kampus. Aku melanjutkan tulisanku “Novelino” seperti biasa lagu korea, eropa, nasyid bergantian berdendang ditelingaku dan lagu2 itu yang selalu menemaniku sekaligus menginspirasiku. Lagu2 Islami yang syarat dengan semangat perjuangan, sendu dan sarat ketundukkan pada Sang maha Pencipta atau bahkan lagu yang dibawakan oleh cranberries yang syarat dengan pemikiran sosialis beradu mempengaruhi jiwaku. Tapi aku sangat menikmatinya.

Ada senang ada sedih juga kala hp ku tiba2 silent/ ga ada saatu pun sms masuk ya ternyata dia masih demen neror gw dg smsnya “Subhanallah, semalam rif mimpi lagi berada di tengah padang pasir ga ada pohon ga ada air ga ada yang lain kecuali ada wajah seseorang dengan senyum dan lambaian tangan itu aja”.

Udah per cuekin aja, ya minimalnya itu bisa menjadi inspirasi bagi tulisanku. Semangat sekali aku menulis sampai pukul 00.30 khawatir besok ga bisa bangun tahajud aku coba ambil wudhu kutunaikan shalat sunnah taubat dan hajat setelah rakaat terakhir entah kenapa aku ingin sedikit merebahkan tubuhku tanpa sadar aku terlelap di lantai dan komputerku masih nyala.

Teteh udah subuh ayo sholat. Seperti Nana tetangga kamarku membangunkanku. Oh sakit sekali bodyku badanku dingin kupindah rebahkan tubuhku di kasur masyaAllah ternyata kasur lebih dingin lagi. Heeghhhhhhhhhhh tubuhku gemetar kedinginan tapi aku paksakan bangkit dan melepas mukena yg masih aku pake semalam.

Udara pagi itu betapa sangat sejuk sekaali, ga boleh tidur lagi ya per tar rizkinya dipatuk ayam kata Nana. Baru  aja aku beres2 hp ku berbunyi Alhamdulillah ada juga yang masih inget sama aku siapa ya? “Per aku mau nanya nieh, bener ga sih kamu mau tunangan sama A tanggal 3 Juli???” “Mataku terbelalak, what’s wrong???” Teror apa lagi ini, I can’t do nothing, sorry, gw ga da pulsa?? Sudahlah aku ga ngerti apa yang akan terjadi.

Ya Allah dengan izinmu temanku memberiku pulsanya aku balas sms itu, dia adalah teman ku temen arif juga kita satu RT. “Aku ga tau apa2 heru, siapa yang nyebarin informasi itu?” “Tadi malam Arif  sms dia bilang mau tunangan sama kamu tgl 3 Juli, dan dia nyuruh disebarin ke semua anak Legok” Oh hancurnya hatiku kenapa begini jadinya. Ya Allah ampuni hamba. Dosa apa yang sudah hamba perbuat Rabb…

***

Adeku sayang … remuk redam rasa jiwa yang hampa kala asa tak lagi kunjung tiba. Adakah debu itu bisa berguna, apalagi yang harus kuppertahankan kala cita sudah menjadi angan. Tapi layakkah aku mundur ketika layar itu sudah kau bentang dengan lebar. Innalillahi wa innalillahi raziun. Tidak aku ga ingin mewarisi sikap fatalisnya orang-orang kafir yang tak beriman. Sungguh aku pun tak meengerti kenapa jarak keimanan dengan kekufuran itu begitu terasa sangat dekat. Nikmat Allah manakah yang telah aku dustakan.

Ibu apakah bapak sudah pulang sayup terdengar suara nenek yang selama ini menjaga ayahku dan kehormatannya “teacan bageur ieu hapunten ibu nuju teu damang, dupi kitu aya naon eneng??””Gini bu ade selalu nanya bapak dan ia sangat ingin sekali bertemu”. Sumuhun kumaha atuh nya da gening apa eneng the teu tiasa ditangtoskeun kadongkapanana. Ya sawios atuh ibu, mung bade nyuhunkeun bantosanana saaupami pun bapak kalereusan wangsul piwarang nelepon ka abdi nya bu. Mangga neng!!!

Hemmh…Adik mungkin ini bukan saat yang tepat untukmu, walau ku tahu betapa dalam kerinduan yang telah tertanam dalam sanubarimu duhai ksatriaku.

***

Sayang … kini ku datang membawa segudang harapan. Berharap dengan misi perjuangan penuhi asa dengan sejuta kemenangan. Yah aku adalah aku, memang kemarin aku lemah dan terkulai tapi kini kebangkitan itu akan kucapai. Wahai ksatria2 ku beginilah hidup yang akan kita lalui, ku memanggilmu bukan dengan sogokan emas ataupun perak tapi aku hendak memancingmu dengan derasnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s